Kajian Agama
Friday, April 13, 2007

Dalam kesempatan ini aku mencoba untuk menulis masalah ma’rifatullah. Banyak sekali pengajaran atau kajian-kajian tentang ketuhanan saat ini berkembang dimasyarakat. Dengan masing-masing pihak memberikan pernyataan bahwa ajaran merekalah yang “sampai” ke Allah. Terkadang masing-masing pihak menjatuhkan talak bahwa ajaran lainnya tidak sempurna dan “belum sampai”. Ironis memang apabila seorang mursyid menyatakan hal yang demikian ini akan menyebabkan ketersesatan murid dalam menggali maha luasnya samudra ilmu ketuhanan. Padahal ilmu Allah ada dimana-mana dan sangatlah luas. Perjumpaan dengan Allah itupun dapat terjadi dimana saja karena Allahlah yang Maha Berkehendak. Beranjak dari hal tersebut ada keinginan sumbang tulisan dalam pemahaman tersebut. Terutama bagi para pesuluk (orang yang berjalan mencari Allah) agar tidak terjebak kepada sebuah pemahaman sempit tentang mengenal Allah.

Setiap ajaran Ketuhanan masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sesuatu yang diajarkan pada satu ajaran belum tentu ada pada pengajaran pihak lain demikian pula sebaliknya. Dalam posisi ini, maka tidak layak bagi kita untuk memvonis ajaran orang lain tidak “sampai” dan dengan kebanggaan bahwa ajaran kitalah yang terbaik, apalagi dengan menjelekkan mursyid-mursyid yang lain. Inilah pertanda syuuzhon (prasangka buruk) yang dimurkai Allah. Yang dibutuhkan adalah masuk keseluruh kekhazanah ajaran tersebut agar mengetahui seluruh kelebihan dan kekurangan masing-masing ajaran. Dengan kesimpulan tidak menjatuhkan ajaran yang satu dengan ajaran yang lainnya akan tetapi dapat membulatkan seluruh pemahaman dari berbagai sumber tersebut terhadap perjumpaan dengan Allah. Tentu dengan berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah.

Orang dapat menemukan Allah dimana saja dan kapan saja. Ada empat wilayah pertemuan manusia dengan Allah, Pertama pertemuan dengan Allah dalam ilmu dan pengamalan Syariat, kedua dalam ilmu dan pengamalan tareqat, ketiga dalam ilmu dan pengamalan haqekat dan keempat pertemuan dalam ilmu dan pengamalan ma’rifat. Orang bisa saja “bertemu” Allah dimasing-masing ilmu dan pengamalan tersebut atau pada keempat wilayah pertemuan tersebut. Tentu sesuai dengan kadar / maqom kita masing masing, Hadis menyatakan apabila hambaku datang kepadaku dengan berjalan maka aku akan menghampirinya dengan berlari dst (cari)

Saat ini metode yang dikembangkan banyak pihak untuk belajar agama (baca ilmu ketuhanan) dengan memakai tahapan melalui syareat, tareqat, haqekat dan ma’rifat. Kalau kita bertolak dari hadis yang menyatakan awaluddin ma’rifatullah (awal beragama adalah mengenal Allah). Maka tentu kita sangat tidak ingin membalik hadis itu dengan awaluddin syareatullah, tareqatullah ataupun haqeqatullah. Mengenal Allah adalah tahap paling dasar dari seseorang dalam perjalanan keagamaannya. Sering ditemui apabila seseorang telah belajar ma’rifatullah merasa sudah mencakup segala-galanya, padahal itu hanya awalnya saja. Jadi pertanyaan dimana tengah dan akhirnya. Kalo kita urutkan maka setelah belajar ma’rifat harus ditingkatkan ke haqeqat, tareqat dan terakhir baru syareat. Maka dapat kita simpulkan pemahaman tertinggi seseorang dalam beragama adalah ketika seseorang dapat memahami dan mengamalkan keempat rukun agama tersebut. Tidak dapat dikatakan sempurna agama seseorang yang berma’rifat tanpa menjalankan kan syareat, tareqat dan haqeqat. Maka standar Ilmu Ketuhanan seseorang itu dapat dikatakan sempurna apabila ia telah melaksanakan syareat, tareqat, haqeqat dan ma’rifat dalam satu kesatuan yang utuh kepada Allah.